Menelusuri Jejak “Keinsjafan Rakjat”: Warisan Perjuangan Ki Hadjar Hardjo Oetomo

Oleh: Redaksi Tewe My ID


Img 20260213 124832
Img 20260213 124832

Sejarah bangsa Indonesia tidak hanya ditulis oleh tokoh-tokoh yang muncul di buku pelajaran sekolah, tetapi juga oleh para pejuang akar rumput yang bergerak melalui organisasi pencak silat. Salah satu sosok sentral yang memiliki kontribusi besar dalam membangkitkan kesadaran nasional di masa kolonial adalah Ki Hadjar Hardjo Oetomo, sang pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Hari ini, kita akan mengulas makna mendalam dari konsep “Keinsjafan Rakjat” (Kesadaran Rakyat) yang menjadi ruh perjuangan beliau saat menghadapi penindasan Belanda.

Siapa Ki Hadjar Hardjo Oetomo?

Sebelum kita membedah semangat perjuangannya, kita perlu mengenal sosoknya. Ki Hadjar Hardjo Oetomo adalah murid dari Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo. Namun, beliau memiliki visi yang lebih progresif: ia ingin ilmu bela diri tidak hanya menjadi sarana olah tubuh, tetapi juga senjata politik untuk memerdekakan bangsa.

Pada tahun 1922, di tengah ketatnya pengawasan pemerintah kolonial, beliau mendirikan Setia Hati Sport School (yang nantinya menjadi PSHT) di Madiun sebagai wadah perjuangan.

Makna “Keinsjafan Rakjat”

Istilah ini bukan sekadar kata-kata puitis. Bagi Hardjo Oetomo, ini adalah sebuah gerakan intelektual dan spiritual yang mencakup:

  • Kesadaran Harga Diri: Mengajak rakyat menyadari bahwa mereka tidak ditakdirkan untuk menjadi budak.
  • Solidaritas Tanpa Sekat: Menekankan bahwa persaudaraan adalah kunci utama melawan politik pecah belah (devide et impera).
  • Perlawanan Aktif: Beliau terlibat langsung dalam organisasi politik seperti Sarekat Islam (SI) untuk menentang kebijakan kolonial.

Relevansi untuk Generasi Masa Kini

Apa relevansi semangat “Keinsjafan Rakjat” di era digital sekarang? Sebagai jurnalis, saya melihat pesan Hardjo Oetomo sangat relevan dalam konteks literasi dan kemandirian berpikir. Di masa lalu musuhnya adalah penjajah fisik, saat ini musuh kita adalah hoaks dan perpecahan.

“Meneladani beliau berarti kita harus tetap kritis, berani, dan menjunjung tinggi persaudaraan.”

Salam Persaudaraan,

Tewe My ID

Referensi: Disadur dari artikel resmi PSHT

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *